Thursday, December 27, 2018

H u j a n

hujan.

 
Sore ini, Sumedang lagi hujan.
Mengakibatkan cuaca yang dingin, dingin-dingin syahdu gitu. Enggak deh, dingin bikin masuk angin. But maybe a Cup of Coffee nor a cup of a hot tea nor it can be a cup of hot chocolate will be good for this kinda weather. Dan, karena sore ini sore hujan yang sejuk maka gue putuskan untuk berceritera tentang perasaan. 
Pengalaman perasaan lebih tepat nya. 
it can be any kind of feeling. Boleh kan?



I don't want to lose you, darling
This can't be the end
Hanging by a thread
Right over the edge
Promise me you're gonna hold on
Don't give up on me right now
And please just don't look down


Btw, gue lagi seneng banget dengerin lagu nya Secondhand Serenade yang ini. Ada yang tau ini penggalan lirik dari lagu apa? 
YEAP BENAR! Judul lagunya  don't look down. Kalo lagi ujan terus lagu ini kindly play as a random playlist, gue suka tibatiba melow gitu. Kaya, atuhlah plis naha sih bet lagu ieu? Padahal mah gak ada memori apa-apa juga. Sedih aja gitu lagunya teh kaya nyuruh, jangan menyerah atuh kamu teh kita kan udah sejauh ini. Gitulah kira-kira kalo diterjemahin jadi bahasa anak jaman sekarang.

Ngomong-ngomong soal perasaan, menurut gue itu adalah sebuah hal yang sangat random dan abstrak, you really don't know where it goes.

Perasaan apa dulu nih? Perasaan tentang apapun. 

Tentang kenyamanan, kesedihan, kepusingan, kemarahan- benar-benar apapun. Rasanya semua orang juga bakalan tau sama konsep ini. Iya sih, cuman kadang-kadang gue suka jadi terkagum-kagum sendiri dengan ke-random-an ini. Gue bener-bener gakan tau bisa tiba-tiba suka sama lagu-lagu yang gue pikir sebelumnya kaya gue ga bakalan suka sama lagu itu. Dan ini berlaku juga pada manusia.

Si rere anaknya emang seneng banget sama sesuatu yang berbau un-expected. Dan kayanya ucapan emang sering kali jadi doa. everythings happen in me, is an un-expected things. Bingung gak lo, mesti sedih apa bahagia? I can suddenly adore someone, falling love with someone just for no reason. For no reason banget sih enggak, tapi emang gak pernah ada alasan khusus. Jadi kalo nanya, ko suka sih sama dirinya?
I'll answer, I dont know, I just did.

Iya gak sih? Kalian pasti pernah begitu juga kan?

Tapi dibalik ke un-expected-an ini, suka sedih juga sih emang, kenapa alur hidup gue gabisa kaya yang lain yang terlihat very easy dan sesuai keinginan. Kaya, kenalan - deket - ngeceng satu sama lain- cocok - jadian deh. Ketidakberuntungan ku kadang membawa gue pada alur yang begini, gue ngeceng dia - temenan - temenan - temenan - selamanya. Oke bye! Hahahahahahahaha 

Case nya gak selalu begitu sih, tapi hampir semua endingnya gue hanya berteman baik dengan mereka. Gue rasanya ingin menertawakan diri sendiri. Oh iya sudah ya tadi diatas.

Tetapi teman-teman, semakin dewasa gue semakin memetik banyak pelajaran hidup yang berharga termasuk soal perasaan yang njelimet ini. Semakin gede, semakin gue gamau ambil pusing. Udah gamau ngode-ngode kaya anak pramuka lagi. Galau-galau kaya ABG apalagi, ewh! Tapi, kalo rindu ditengah-tengah hujan mah sih emang masih suka bikin krenyes-krenyes sedikit lah, sedikit aja.

Sekarang gue lebih seneng ngomong langsung sama orang nya, agar supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Tentang apapun itu. Karena reyna yang sudah tua ini sudah malas menebak-nebak, malas memprediksi dan berpikir kalau komunikasi adalah hal yang sangat-sangat penting. If you think your feelings is an important things to talk about, then speak up. Terus gimana dong nanti jawabannya? Aduh tapi aku malu. Aduh tapi aku gak berani. Here the things you need to know, langkah apapun yang kamu ambil itu punya timbal balik nya masing-masing. its your life, feel free to choose. Gue juga begitu ko. Gak semua perasaan gue ceritain dan gak ke semua orang juga gue bisa di ceritain.

Perasaan dan tektek bengeknya adalah hak asasi manusia. Dan hak lo juga mau lo apain tuh si perasaan. As long as it not harm you and the people around you aja sih kalo menurut gue.


What do you think? Agree? Disagree?
Gak nyambung kan sama judul nya?
Gapapa.

Thursday, November 29, 2018

Growing up, growing old.

Taun ini gue 24 tahun.
yap, 24 tahun.

Tapi, gatau kenapa memori gue kayanya selalu stuck in my 23 years old. Kalo ada yang gak sengaja nanyain umur gue, gue pasti secara gak sadar akan bilang, 23 taun. Atau karena alam bawah sadar gue gak rela ya kalo gue udah lewat 23 taun. Yah, gue juga emang gak rela sih knowing me growing up, growing old. Orang-orang yang seumuran gue saat ini pasti akan sangat menjungjung si Peter Pan (Film nya Disney ya, bukan band), They will said, now we understand why Peter Pan didn't want to grow up. Sesekali aja sih mikir kaya gitunya, kalo lagi ngerasa bingung gatau harus ngapain. Begitulah hidup gue, tidak terarah (kasih backsound sedih).
Jadi, apa yang sudah kalian temukan di umur 24? gue? banyaaaaak!

Yang paling sering terbesit di otak gue adalah pemikiran tentang konsep hidup dan menjadi dewasa, gue selalu ngomong sama diri sendiri, ternyata hidup tidak semudah yang sering banget gue bayangkan. Kaya timeline hidup yang kaya gini, Sekolah - Kuliah - Kerja - Menikah. Padahal mah bisa aja step nya dibalik jadi Sekolah - Kerja -Kuliah - Nikah, atau berubah jadi yang lain, gak melulu harus kaya pemikiran gue yang tradisional itu. Semakin gede gue jadi semakin sering mikir. Iya, dari kecil gue mah anaknya emang males mikir. Sekarang malah yang gak penting aja bisa kepikiran, kaya semuanya keliatan rumit, ruwet aja gitu. Kemana kah Reyna yang dipenuhi dengan ke simplicty-an hidup? Orang-orang bijak mungkin akan bilang, mungkin emang gabisa selamanya lo me-simplicity-kan hidup, ada masa dimana lo emang harus menjadi complicated, atau menjadi bijaksana, atau menjadi pemikir atau apapun yang dibutuhkan pada saat itu.

Benar, mereka benar. 

Dan hal yang paling gue benci adalah gue menjadi orang yang lebih sensitif. Bawaan lahir gue tuh udah jadi Reyna Sensitif Pumieda, makin gede gue jadi makin sensitif. Like, oh I love feeding my ego. ewh! Menjijikan kamu Reyna! Begitu ujarku pada diri sendiri. Sampe lo berada di momen, lo udah males buat bersosialisasi sama orang-orang. Baik itu orang-orang yang sudah lama kau kenal maupun orang-orang yang baru. Padahal, They has nothing to do with me and my life, terus salahnya dimana? Ya di gue nya lah. Apakah ini salah satu step yang mesti gue lalui untuk jadi dewasa? ah menjadi tua kali lo mah rey, bukan dewasa (menghujat diri sendiri). Lalu ini efek samping dari apa??? Bukan efek samping dari apa-apa sih. It just you. Dan cuma lo yang tau, tau cara benerin-nya kaya gimana.

Hi Life, can we be a friend?

Monday, November 26, 2018

BASA BASI???

Eh, sekarang kerja dimana?
Gaji berapa?
Jabatan-nya apa?
Udah nikah?
Kapan Nikah? Jangan gitulah, kamu tuh terlalu pilih-pilih.
Udah punya anak? 
Ko kurus banget sih, gak bahagia nih pasti. Makanya, makan yang banyak jangan pelit.
Semua kerjaan tuh cape, mau nyari kerjaan apalagi sih? syukuri ajadeh yang ada.
Wah, muka lo breakout kayanya krim nya gak cocok deh, ko bisa sih ih ko banyak jerawatan nya sekarang.
Ko lo masih pecicilan aja sih?
Jadi, kapan lulus? Skripsi lo ko gak selesai-selesai? yang lain mah udah pada kemana kali.

Kayanya gue kenal sama pertanyaan-pertanyaan macam begitu, deh. Enggak ko, gak ada yang salah. Semua nya terdengar normal. Yap, normal. Kalo aja pertanyaan itu ditanyakan dengan tidak bermaksud untuk mengintimidasi perasaan yang lain. Enggak semua orang bermaksud meng-intimidasi juga sih. Beberapa orang memang bertanya karena mungkin mereka emang merasa pertanyaan-pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan yang lumrah untuk ditanyakan. Mungkin, yang harus dirubah adalah mind-set  yang menyatakan bahwa itu adalah hal yang normal, lumrah, biasa dan gak usah dilebih-lebihkan (Mungkin).

Iya, karena gue pikir, dari pembenaran itulah yang akhirnya mengantar dia sampai ke tahap dimana dia akan merasa apa yang dia lakukan atau ucapkan melibatkan orang lain itu bukanlah sesuatu yang serius. Cuma bercanda, katanya. Ini yang sering gue temui juga di pergaulan jaman sekarang. Dimana pembenaran tentang, "ah cuma pertanyaan biasa, jangan berlebihan" dan "ah, cuma bercanda, jangan baper" sudah mendominasi ruang lingkup kehidupan sosial jaman sekarang, Dan apa yang gue rasakan akibat dari fenomena ini? Gue merasa batas-batas, atas apa yang bisa menyinggung perasaan orang lain menjadi semakin kabur dan samar.
Gue gatau kalian pernah merasakan ini atau enggak, tapi gue pernah atau sering banget nemuin becandaan yang malah cenderung menjadi sexual harassment. Mereka jadi gabisa ngebedain mana yang bisa disebut becanda dan mana yang malah jadi sexual harassment.
 
Pada akhirnya dia bakalan ngerasa kalo orang lain menyanggah apa yang dia lakukan atau apa yang dia ucapkan itu adalah sesuatu yang bisa menyinggung atau menyakiti, mereka akan bilang, "ah lebay lo. gausah baper kali biasa aja, gue kan cuma nanya begitu doang yaelah". Atau bahkan mungkin They wont even talk to me anymore karena mereka akan menganggap gue orang yang gak asik. Bukan salah mereka juga sih, mungkin gue yang bodoh membiarkan candaan atau pertanyaan-pertanyaan semacam gitu jadi hal yang dianggap lumrah.

Its okay, itu cuma sudut pandang pribadi gue yang segitu-gitunya. Gue gak ngambil contoh pengalaman orang lain yang jauh gak keliatan, gue ambil contoh depan mata aja. Gue pikir, perasaan sedih karena basa-basi pertanyaan orang lain itu cuma tahayul belaka, ternyata itu benar adanya. Cause, there's a moment lo bener-bener berada ditahap kayak I'm tired of everything, of people's questions, of people's talks, of people's opinions and shut the fck up everybody! (ew, thats so rude!) 
Ya, seenggaknya itulah yang pernah gue rasakan. Di masa-masa begitu, denger celotehan orang-orang yang cuma nanya "terus kamu nanti mau kerja dimana, re? jangan lama-lama loh, harus cepet" dan bla..bla..bla.. itu udah cukup bikin gue sedih. Kalo aja mereka bisa liat ekspresi gue pada saat itu yang kalo di terjemahin artinya bisa jadi, "ya jangan kan elu yang pada nanyain, gue aja belom tau". GITU LOH :))))

Atau mungkin perasaan kita aja yang lagi super-sensitive. Yah, pada akhirnya kita, gue juga jadi belajar, kalo gak selamanya perasaan seseorang akan baik-baik saja. Kata Slank juga, gue kan manusia bukan belati. Mengutip dari apa yang orang-orang ucapkan, beware with your words.

This words are only my oppinion, if you dont agree with that, its okay.

Ada yang kembali

Hello, everyone.

After all these years, akhirnya gue buka blog Hello Goodbye ini di hari Selasa, tanggal 27 November 2018 Jam 07.50 WIB.  

Gak tiba-tiba sih kepengen buka blog ini lagi. Setelah semua yang terjadi beberapa tahun ini, gue jadi berpikir mungkin sebaiknya gue merekam segala sesuatu yang ada di otak gue atau apa yang selama ini gue pikirin, disini. Gak ada alasan khusus sih (selain emang karena gue lagi gak ngapa-ngapain), ya cuma karena gue merasa nulis disini lebih enak aja daripada gue nulis sesuatu yang panjang lebar di sosial media gue yang lain. Ya, maklum aja gue kan anaknya seneng banget bacot. 
Makanya gue punya firasat blog ini akan jadi blog ter-unfaedah sepanjang masa, jadi kalo ada yang udah terlanjur baca tulisan ini, gapapa ko lo boleh mandi besar dan ber- istigfar sebanyak lo mau. 

Gue gak bakalan mengkhususkan blog ini akan jadi blog yang kaya gimana. I'll write what I want to write, and share and tell you a story atau apapun yang pada saat itu gue rasa gue punya hasrat (- atau keinginan atau kemauan atau bagaimanapun lo menyebutnya) untuk nulis disini. Mohon jangan hujat gue kalo tulisan gue lebih buruk dari yang lo bayangin. Gue bukan penulis, kasihani gue.

Nah, sekarang gue malah jadi penasaran sendiri kenapa waktu itu nama Blog ini gue namain Hello Goodbye.
Gak, lo gausah ikut mikir biar gue aja yang semedi mencari jawaban. (HALAHHHH)
Hmm...sepertinya pada saat itu gue hanyalah GADIS berusia 19 tahun yang memiliki angan-angan punya blog yang super duper puitis........................................................................
Kenapa sih Rey???? kamu kenapa Rey pada saat itu???? Nampaknya pada saat itu kamu dipenuhi kegalauan dan kegundahan. Ini tidak patut ditiru teman-teman.

Namun, setelah dipikir-pikir, that name isnt that really bad, ko. Ya kan??
Mungkin kalo gue ambil filosofi nya (Biar ala-ala kan pake filosofi), Hello Goodbye ini diambil berdasar kepada semua yang terjadi dalam hidup ini are all about Come and Go. Okay, baiklah biarkan si Reyna berimajinasi sesuka hatinya.

So, if you are someone I know, dan secara gak sengaja atau secara sengaja baca tulisan ini, please just pretend you never read this thing. (emoticon tertawa)
Kritik, saran dan share yang membangun will be allowed :)

Turn Over

helo, been a while, huh? I almost forget how,  how to tell everything in a paragraph, in the book, in this safe place. Dont you think I come...