Monday, November 26, 2018

BASA BASI???

Eh, sekarang kerja dimana?
Gaji berapa?
Jabatan-nya apa?
Udah nikah?
Kapan Nikah? Jangan gitulah, kamu tuh terlalu pilih-pilih.
Udah punya anak? 
Ko kurus banget sih, gak bahagia nih pasti. Makanya, makan yang banyak jangan pelit.
Semua kerjaan tuh cape, mau nyari kerjaan apalagi sih? syukuri ajadeh yang ada.
Wah, muka lo breakout kayanya krim nya gak cocok deh, ko bisa sih ih ko banyak jerawatan nya sekarang.
Ko lo masih pecicilan aja sih?
Jadi, kapan lulus? Skripsi lo ko gak selesai-selesai? yang lain mah udah pada kemana kali.

Kayanya gue kenal sama pertanyaan-pertanyaan macam begitu, deh. Enggak ko, gak ada yang salah. Semua nya terdengar normal. Yap, normal. Kalo aja pertanyaan itu ditanyakan dengan tidak bermaksud untuk mengintimidasi perasaan yang lain. Enggak semua orang bermaksud meng-intimidasi juga sih. Beberapa orang memang bertanya karena mungkin mereka emang merasa pertanyaan-pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan yang lumrah untuk ditanyakan. Mungkin, yang harus dirubah adalah mind-set  yang menyatakan bahwa itu adalah hal yang normal, lumrah, biasa dan gak usah dilebih-lebihkan (Mungkin).

Iya, karena gue pikir, dari pembenaran itulah yang akhirnya mengantar dia sampai ke tahap dimana dia akan merasa apa yang dia lakukan atau ucapkan melibatkan orang lain itu bukanlah sesuatu yang serius. Cuma bercanda, katanya. Ini yang sering gue temui juga di pergaulan jaman sekarang. Dimana pembenaran tentang, "ah cuma pertanyaan biasa, jangan berlebihan" dan "ah, cuma bercanda, jangan baper" sudah mendominasi ruang lingkup kehidupan sosial jaman sekarang, Dan apa yang gue rasakan akibat dari fenomena ini? Gue merasa batas-batas, atas apa yang bisa menyinggung perasaan orang lain menjadi semakin kabur dan samar.
Gue gatau kalian pernah merasakan ini atau enggak, tapi gue pernah atau sering banget nemuin becandaan yang malah cenderung menjadi sexual harassment. Mereka jadi gabisa ngebedain mana yang bisa disebut becanda dan mana yang malah jadi sexual harassment.
 
Pada akhirnya dia bakalan ngerasa kalo orang lain menyanggah apa yang dia lakukan atau apa yang dia ucapkan itu adalah sesuatu yang bisa menyinggung atau menyakiti, mereka akan bilang, "ah lebay lo. gausah baper kali biasa aja, gue kan cuma nanya begitu doang yaelah". Atau bahkan mungkin They wont even talk to me anymore karena mereka akan menganggap gue orang yang gak asik. Bukan salah mereka juga sih, mungkin gue yang bodoh membiarkan candaan atau pertanyaan-pertanyaan semacam gitu jadi hal yang dianggap lumrah.

Its okay, itu cuma sudut pandang pribadi gue yang segitu-gitunya. Gue gak ngambil contoh pengalaman orang lain yang jauh gak keliatan, gue ambil contoh depan mata aja. Gue pikir, perasaan sedih karena basa-basi pertanyaan orang lain itu cuma tahayul belaka, ternyata itu benar adanya. Cause, there's a moment lo bener-bener berada ditahap kayak I'm tired of everything, of people's questions, of people's talks, of people's opinions and shut the fck up everybody! (ew, thats so rude!) 
Ya, seenggaknya itulah yang pernah gue rasakan. Di masa-masa begitu, denger celotehan orang-orang yang cuma nanya "terus kamu nanti mau kerja dimana, re? jangan lama-lama loh, harus cepet" dan bla..bla..bla.. itu udah cukup bikin gue sedih. Kalo aja mereka bisa liat ekspresi gue pada saat itu yang kalo di terjemahin artinya bisa jadi, "ya jangan kan elu yang pada nanyain, gue aja belom tau". GITU LOH :))))

Atau mungkin perasaan kita aja yang lagi super-sensitive. Yah, pada akhirnya kita, gue juga jadi belajar, kalo gak selamanya perasaan seseorang akan baik-baik saja. Kata Slank juga, gue kan manusia bukan belati. Mengutip dari apa yang orang-orang ucapkan, beware with your words.

This words are only my oppinion, if you dont agree with that, its okay.

No comments:

Post a Comment

Turn Over

helo, been a while, huh? I almost forget how,  how to tell everything in a paragraph, in the book, in this safe place. Dont you think I come...